Sabtu, 21 Oktober 2017  

Situs LIPI »   Blog LIPI »  

foto
» Profil
» Publikasi
» Kegiatan
» Berita
» Perjalanan LN
» Tamu
» Afiliasi
  »   BKHH
  »   Kelompok riset
  »   Laboratorium
  »   Grup diskusi :
CPNS 2014 |
»
      tidak ada...
» Tautan favorit
  »   Intra LIPI
  »   Info LIPI
» Statistik
  »   4 artikel
  »   6 komentar
  »   3.441 kali diakses
  »   0 kali dikirim
  »   231 kali dicetak
» Adib Hasan ISSN 2086-5252 halaman depan »

» Daftar artikel di kategori yang sama

INCUMBENT atau PETAHANA??
Dibuat : 06/09/16 (17:24 WIB)
Revisi terakhir : 06/09/16 (17:25 WIB)
URL pendek : http://u.lipi.go.id/1473157480

penelurusan dalam mencari dua istilah kata tersebut membuat saya terdampar pada sebuah tulisan yang ditulis oleh @Uum G. Karyanto.Uum mengatakan, "Kata 'incumbent' sebenarnya bisa saja diganti dengan istilah 'penjabat' atau 'pejabat'. Namun, kata 'pejabat' terlanjur digunakan dengan arti 'pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting'. Sementara itu, 'penjabat' memiliki arti 'pemegang jabatan sementara'. pernyataan tersebut Uum samaikan sehubungan dengan usulan dari Salomo Simorangkir pada harian kompas yang mengusulkan istilah "Petahana" sebagai padanan kata "incumbent"Dalam KBBI tidak ada istilah "petahana" yang ada hanyalah istilah "tahana" yang berarti "kedudukan, martabat, (kebesaran, kemuliaan, dsb.). munculnya imbuhan "pe-" untuk kata "tahana", uum memberikan analogi yang menurut saya masuk akal, seperti berikut:tinju -- bertinju -- petinjutatar -- bertatar -- petatarMaka:tahana -- bertahana -- petahana.

INCUMBENT atau PETAHANA dan Komunikasi MassaTidak cukup kiranya hanya membahas sampai kedudukan dari dua kata tersebut. Saya mencoba mengaitkannya dengan teori komunikasi massa untuk melihat sejauh mana penggunaan sebuah istilah dapat mempengaruhi penerima informasi.Katz and Lazartfeld menerangkan konsep Two Step Flow Theory. Teori ini menjelaskan bahwa ada hubungan yang erat antara opinion leader dan personal influence. teori ini memiliki lima asumsi dasar yakni, individu yang terisolasi, respon terhadap pesan, proses penerimaan informasi, tingkat keaktifan individu dan opition leader sebagai pengguna aktif.Dari penjelasan di atas, secara tidak langsung, Kart dan Lazaefeld ingin menyatakan adanya Gap pemisah antara Pemberi informasi dan Penerima informasi. sebagai contoh, pemberi informasi ingin mendeskripsikan sebuah Gajah, kemudian diceritakanlah bahwa gajah itu besar, berkaki empat, memiliki gading, telinga lebar, memeliki belalai dst. Namun, dengan adanya "gap" tapi apa yang ditangkap oleh penerima informasi jadi tidak menyeluruh, sehingga ada yang menerima bahwa gajah adalah gading saja, gajah itu bertelinga lebar saja, dan seterusnya-seterusnya.

INCUMBENT atau PETAHANA antara 2012 dan 2017Gap sebagaimana dalam Two Step Flow Theory tadi dapat terjadi dengan atau tanpa disengaja.Pada tahun 2012, istilah Petahana tidak populer, masyarakat luas lebih mengenal istilah incumbent untuk menunjukkan pejabat yang ingin mencalonkan kembali (melanjutkan untuk satu periode berikutnya) pada posisi jabatan yang sama, setelah sebelumnya terpilih menduduki jabatan tersebut. Namun, pada 2016 sekarang, menjelang Pilkada 2017, istilah "incumbent" nyaris hilang, digantikan dengan istilah "petahana". Dahulu, berdasarkan pemberitaan media, Basuki Tjahya Purnama atas lawannya Foke kala itu, menuntut keras agar Foke menjalani cuti selama masa kampanye.Menurut saya ini adalah hal yang menarik untuk dicermati. Memanfaatkan peluang "gap" untuk meminimalisir dampak akan sebuah informasi.Bagaimana tidak, masyarakat sudah sangat mafhum dengan istilah "incumbent", dan ketika dirubah jadi "petahana" butuh waktu untuk memahaminya (/gap).memang perlu penelitian lebih lanjut akan dampat pemakaian dua istilah tersebut, tapi paling tidak itulah yang dimanfaatkan dalam periode panas menuju pemilihan DKI 1 2017.Ahok yang menggunakan istilah "incumbent" untuk menyerang foke di tahun 2012, sekarang menggunakan istilah "petahana" untuk uji material di MK.

» Artikel terkait :

» Tanggapan :

  • Komentar Anda :
    Setiap komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Penulis. Khusus untuk komentar dari sivitas LIPI yang ditulis melalui halaman BLOG setelah masuk Intra LIPI langsung ditampilkan tanpa perlu persetujuan Penulis.

    Nama :
      (wajib diisi)
    Surat-e pengirim :
      (wajib diisi)
    Situs pengirim : (kalau ada)

    Isi komentar : (tidak diperkenankan memakai kode HTML)
      (wajib diisi)
    Kata-kunci dinamis :   (wajib diisi)     [ lihat disini ! ]
      atau  

» 1 komentar
» 555 kali diakses
» 0 kali dikirim
» 60 kali dicetak
versi cetak »
kirim ke teman »
berbagi ke facebook »
berbagi ke Twitter »
simpan halaman ini »
terjemahkan halaman ini »

Arsip blog dengan kata-kunci :  

PERHATIAN : Seluruh isi blog ini merupakan representasi dari pandangan dan opini personal pemilik blog sebagai bagian dari kebebasan akademis sivitas LIPI, tetapi BUKAN merupakan representasi kebijakan LIPI secara kelembagaan ! Seluruh isi merupakan tanggung-jawab individu pemilik blog, dan LIPI tidak bertanggung-jawab atas isi maupun aneka akibat baik langsung maupun tidak langsung yang ditimbulkannya.
Berbeda dengan blog pada umumnya, identitas penulis di Blog Sivitas LIPI dijamin kebenarannya.
Artikel yang telah mendapatkan tanggapan tidak bisa direvisi oleh penulis.
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2002-2017 LIPI