Minggu, 17 Desember 2017  

Situs LIPI »   Blog LIPI »  

foto
» Profil
» Publikasi
» Kegiatan
» Berita
» Perjalanan LN
» Tamu
» Afiliasi
  »   Pusinov
  »   Kelompok riset
  »   Laboratorium
  »   Grup diskusi :
PUSINOV |
»
      tidak ada...
» Tautan favorit
  »   Intra LIPI
  »   Info LIPI
» Statistik
  »   14 artikel
  »   17 komentar
  »   10.570 kali diakses
  »   2 kali dikirim
  »   439 kali dicetak
» Syafrizal Maludin ISSN 2086-5252 halaman depan »

» Daftar artikel di kategori yang sama

INOVASI PENGANGGU KEMAPANAN DAN PERAN PEMERINTAH
Dibuat : 07/09/16 (22:23 WIB)
Revisi terakhir : 15/09/16 (09:41 WIB)
URL pendek : http://u.lipi.go.id/1473261781

Inovasi Pengganggu kemapanan begitulah diterjemahkan dari istilah yang sering dikenal dengan Disruptive Innovation yang diperkenalkan oleh Clayton Christensen sejak tahun 1995. Inovasi ini menciptakan pasar baru dan mengganggu pasar yang sudah ada. Seperti Creative Destruction yang disampaikan oleh Joseph Schumpeter pada 1940an dimana pengenalan 5 kebaruan (produk, pasar, proses, bahan baku dan organisasi) akan mempengaruhi cara lama.

Pada suatu pagi, sebuah panggilan dilakukan pada pekerja kebersihan kantor untuk mempersiapkan ruangan yang akan digunakan. Panggilan pertama dan kedua tidak terjawab. Setelah mencari kontak pekerja kebersihan, tiga panggilan juga tidak terjawab. Mungkin masih terlalu pagi untuk melakukan telepon. Tidak sengaja berpapasan dengan pekerja kebersihan luar kantor dan saya coba tanyakan 2 nama yang saya coba hubungi. Lumayan kaget saat dia mengirimkan pesan pencarian kedua orang itu melalui grup pekerja kebersihan. Kaget, karena saya tidak berharap bahwa cara berkomunikasi instan ini sudah demikian cepat dikuasai.

Jika sebelum tahun 2000, masyarakat dibagi menjadi masyarakat menulis, membaca dan belajar, maka komunikasi dengan tulisan memiliki lebih banyak kelemahan dibandingkan dengan komunikasi suara. Pada saat itu trafik voice over data cukup besar. Leased line yang dilakukan pada perusahaan yang beroperasi global memiliki porsi yang sama antara data dengan suara. Sehingga masa itu, sebuah pesan yang diharapkan mendapatkan respon cepat akan dilakukan dengan panggilan suara.

Anak perempuan saya terlambat pulang. Seharusnya dia sudah ada dirumah pukul 14.30 sudah dirumah tapi sampai pukul 15.00 masih belum ada dirumah. Penyusunan bahan informasi nomor telepon guru, teman-temanya, rumah sakit, kantor polisi terdekat sudah dilakukan. Untunglah, pukul 15.04 dia sudah sampai dirumah. Dia menyatakan adanya tugas tambahan dan hal ini disampaikan melalui pesan singkat dan panggilan melalui Whatsapp. Dia mohon permakluman karena sudah tidak melanggan untuk SMS dan telepon dan seluruhnya berupa paket internet. Sehingga hanya bisa melakukan panggilan dan pesan melalui komunikasi berbasis internet.

Inovasi pengganggu kemapanan ini tidak terbatas pada golongan, umur, jenis kelamin dan ras. Perubahan mengubah cara dan memberikan kemerdekaan (freedom) melalui kemudahannya. Pertimbangan anak saya tidak melanggan jasa layanan konvensional adalah selain lebih murah (?), juga bisa melampirkan dokumen (PDF), lokasi, dan foto.

Demi sang Upik, saya bawa perangkat cerdas ini layaknya alat yang lama. Pesan saya untuk Upik adalah tetap menjaga off-screen-time yaitu selama 3 jam dalam sehari tanpa alat komunikasi, televisi, laptop, tablet atau iMac.

PERAN SEKTOR PUBLIK

Perbedaan antara inovasi untuk sektor public dengan sektor privat tidak terlalu terasa dalam aplikasi sehari-hari. Bukan hanya disebabkan kata inovasi layaknya buzz word sehingga penggunaan istilah dan kata dalam inovasi diharapkan lebih mendapat perhatian tapi juga istilah yang digunakan dalam ilmu ini banyak bersumber dari ilmu lain misalnya triple helix, hot spot innovation, innovate or/and die. Dan tentu saja pembajakan istilah inovasi oleh bagian publik lebih banyak dilakukan walaupun tidak tepat.

Namun pada profil mata kuliah dan publikasi ilmiah, pembagian antara inovasi pada sektor public dan sektor privat dibedakan. Misalnya pada course reader untuk Economics of Innovation and Entrepreneurship diperuntukan untuk Mahasiswa yang tertarik pada inovasi di sektor publik dan New Product and Service Development pada course reader dijelaskan bahwa konsep dan aplikasi ditargetkan untuk sektor privat.

Rock and Roll, yang pernah mendunia dan berpengaruh pada pandangan sebagian manusia dalam menikmati music, tidak diciptakan oleh pemerintah. Facebook dan Apps juga tidak datang dari Pemerintah. Masih banyak contoh lain yang tidak terlihat dimana peran Pemerintah melalui universitas dan lembaga penelitiannya berkontribusi melalui inovasi.

Saat negara harus impor gula dan garam, pertanyaan yang kurang sedap adalah dimana peran litbang. Isu sejenis ini berkembang cepat. Dengan panjang pantai terluas ke dua di dunia, Indonesia ternyata masih tergantung pada garam impor. Pertanyaan tidak tertuju pada tata kelola pergaraman dan standard tapi pada bagaimana litbang bisa berkontribusi untuk menyelesaikan masalah tersebut (demonize the State).

Tapi, kembali pada contoh alat komunikasi diatas, maka Perusahaan sebesar Apple dalam pengembangan iPhone-nya menikmati kucuran dana dari pemerintah melalui Small Business Investment Company (SBIC). Local Area Network yang berkembang aplikasinya dan internet dikembang oleh The Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA). Dan sekarang layar sentuh sudah menjadi bagian pada alat komunikasi cerdas. Layar sentuh ini dikembangkan oleh CIA, NSF yang bekerja sama dengan University of Delaware. Tentu saja dengan anggaran pemerintah

Pada gambar berikut diperlihatkan Kurva S yang memperlihatkan produk inovasi dengan harga dan unit cost yang tinggi pada tahap awal dan setelah titik potong akan lebih murah dan efisien dibandingkan tanpa inovasi teknologi. Misalnya alat komunikasi bergerak, generasi lama bentuknya kaku dan harganya mahal. Harganya kurang lebih setara dengan 10 kali upah minimum regional di Jakarta pada tahun 1990an. Saat ini, alat komunikasi cerdas dengan bentuk dan kapasitas yang baik bisa dibeli mungkin dengan harga dari UMR.

Jadi sebetulnya peran Negara melalui Litbangnya sangat penting. Salah satunya melalui kebijakan yang ramah inovasi. Maksudnya, kebijakan yang menimbang resiko, ketidakpastian dan investasi litbang jangka panjang.

Disisi lain, komitmen Pemerintah untuk perkembangan iptek, pendidikan dan pertanian yang harus dipandang dalam jangka panjang sulit untuk direalisasikan. Bahwa pengambil kebijakan melakukan fungsinya dalam jangka pendek sementara perkembangan iptek tidak bisa dipandang sebagai sasaran jangka panjang. Capaian fisik menjadi lebih menarik dibandingkan dengan perkembangan dalam Iptek.

Salim Said dari Universitas Indonesia dalam sebuah acara di televisi memberi metafora bahwa siapapun terpilih menjadi Presiden di Amerika, Negara ini akan tetap berjalan dengan stabil. Jumlah Kementerian tidak berganti sementara perkembangan program dan target jangka panjang seperti Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan berani untuk dikunci anggarannya. Di tempat lain, pergantian Menteri bisa sewaktu-waktu dan pergantian Menteri akan membawa program dan titipan tersendiri.

» Artikel terkait :

» Tanggapan :

  • Syafrizal Maludin - 15/09/16 (09:40 WIB)

    tks

  • Komentar Anda :
    Setiap komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Penulis. Khusus untuk komentar dari sivitas LIPI yang ditulis melalui halaman BLOG setelah masuk Intra LIPI langsung ditampilkan tanpa perlu persetujuan Penulis.

    Nama :
      (wajib diisi)
    Surat-e pengirim :
      (wajib diisi)
    Situs pengirim : (kalau ada)

    Isi komentar : (tidak diperkenankan memakai kode HTML)
      (wajib diisi)
    Kata-kunci dinamis :   (wajib diisi)     [ lihat disini ! ]
      atau  

» 2 komentar
» 900 kali diakses
» 0 kali dikirim
» 35 kali dicetak
versi cetak »
kirim ke teman »
berbagi ke facebook »
berbagi ke Twitter »
simpan halaman ini »
terjemahkan halaman ini »

Innovation Technolog
Arsip blog dengan kata-kunci :  

PERHATIAN : Seluruh isi blog ini merupakan representasi dari pandangan dan opini personal pemilik blog sebagai bagian dari kebebasan akademis sivitas LIPI, tetapi BUKAN merupakan representasi kebijakan LIPI secara kelembagaan ! Seluruh isi merupakan tanggung-jawab individu pemilik blog, dan LIPI tidak bertanggung-jawab atas isi maupun aneka akibat baik langsung maupun tidak langsung yang ditimbulkannya.
Berbeda dengan blog pada umumnya, identitas penulis di Blog Sivitas LIPI dijamin kebenarannya.
Artikel yang telah mendapatkan tanggapan tidak bisa direvisi oleh penulis.
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2002-2017 LIPI