Sabtu, 24 Juni 2017  

Situs LIPI »   Blog LIPI »  

foto
» Profil
» Publikasi
» Kegiatan
» Berita
» Perjalanan LN
» Tamu
» Afiliasi
  »   Pusinov
  »   Kelompok riset
  »   Laboratorium
  »   Grup diskusi :
PUSINOV |
»
      tidak ada...
» Tautan favorit
  »   Intra LIPI
  »   Info LIPI
» Statistik
  »   14 artikel
  »   14 komentar
  »   6.166 kali diakses
  »   2 kali dikirim
  »   228 kali dicetak
» Syafrizal Maludin ISSN 2086-5252 halaman depan »

» Daftar artikel di kategori yang sama

PERTANIAN MASA DEPAN
Dibuat : 18/08/16 (16:36 WIB)
Revisi terakhir : 18/08/16 (16:42 WIB)
URL pendek : http://u.lipi.go.id/1471512974

PERTANIAN MASA DEPAN

Indonesia termasuk sebagai negara dengan harga daging sapi termahal. Menjelang lebaran Presiden melalui Menteri Pertanian mematok harga sekitar delapan puluh ribuan untuk sekilo daging sapi. Tapi harga daging tidak bisa mencapai dibawah seratus ribu sekilo diluar operasi pasar. Kasus ini memberikan gambaran sulitnya mendapatkan data yang valid.

Mungkin seperti mengendarai kendaraan tanpa perlu memperhatikan penunjuk kecepatan. Apalagi dengan semakin majunya teknologi maka instrumen pada dashboard mobil bercahaya indah temaram bagaikan hiasan lampu-lampu kota dilihat dari lantai puncak Monumen Nasional.

Berapa “sebetulnya” kebutuhan daging atau bahan pangan lainnya dan berapa “sebetulnya” ketersediaan daging dan bahan pangan lain. Dengan kata “sebetulnya” tadi, berarti kita masih menggunakan data dari panel kecepatan kendaraan mewah tadi dan dipacu tanpa kendali.

Tanpa data yang baik dan layak, beberapa ekonom menyebut Indonesia sebagai negara rente. Buktinya beras, garam dan gula masih belum bisa dipenuhi sendiri. Tapi kasus pada tiap komoditi tadi ternyata diikuti argumennya yang terkait dengan standard, data dan tata niaga.

Terkadang posisi terdesak dengan pernyataan kegiatan ilmu dan teknologi yang tidak berjalan baik sehingga komoditas pangan yang penting ternyata masih tergantung dari luar. Ada universitas besar di Indonesia dengan kempetensi di pertanian. Tapi respon terhadap keadaan itu tergantung juga dengan situasinya. Jika pencetus memandang masalah ini bagaikan kasus religious maka jawaban paling aman adalah diam. Tapi pada keadaan yang lebih bersahabat, kita bisa mencari bersama dengan masuk ke mesin pencari dan masukan kata-kata kunci penting dan kembali pada pertanyaan apakah masalah pangan di Indonesia adalah memang masalah teknologi.

Peran aktor informal yang berada diantara hulu dan hilir memang sangat berpengaruh. Komoditi yang besar tentu didalamnya ada pemain besar. Tapi terrnyata untuk ikan asin saja , baik data, distribusi maupun harga hanya dikuasai kurang dari 5 orang pemain.

Dari data pertanian tahun 2015, produksi gabah sebesar 75,40 juta ton dengan konversi 0.57 maka jumlah produksi beras adalah 43 juta ton. Konsumsi beras perkapita adalah 114 KG maka total konsumsi adalah 31 juta ton. Jika memang terjadi surplus, maka kenaikan harga beras bisa menjadi pertanyaan menarik. Kurva harga beras di Indonesia terus kearah kanan atas berbeda dengan harga beras Thailand atau Vietnam bisa turun atau naik. Tapi tetap harga beras nasional masih diatas harga beras dari kedua negara tersebut.

Menarik untuk diperhatikan sumber diskrepansi data produksi yaitu produktivitas (ton/ha) dikali dengan luas panen (ha). Dimana produktivitas diukur dengan survai ubinan yaitu sampel berukuran 2,5 x 2,5 meter. Cara kedua adalah dengan eye estimate dimana luas pertanian diperkirakan berdasarkan batas pandangan. Kemungkinan teradinya penghitungan lebih sangat besar. Hal ini merupakan salah satu peran pertanian dalam perekonomian yaitu penyedia tenaga kerja bagi sektor lain. Bisa

PERAN JASA TEKNOLOGI/ILMIAH DALAM INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN

Dalam kegiatan survey ke daerah pertanian maka jumlah Petani dengan usia tua yang bekerja di sawah lebih banyak dibandingkan. Pemuda di desa seperti Karawang, misalnya, meninggalkan ladang dan bekerja di pabrik. Para Petani di sawah bekerja dengan kebiasaan yang sudah lama ditekuninya. Perlu usaha keras dan teliti untuk memberikan sebuah cara bertanam baru atau penggunaan alat baru. Disisi lain, perubahan teknologi pada pertanian lebih dari pada perubahan cara bertanam tapi merubah bentuk pertanian.

Namun masalah tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Misalnya, di Iowa Amerika Serikat, jumlah petani muda terus menurun. Dalam 5 tahun jumlah petani muda turun sebanyak 4000 orang selama 5 tahun (2007 – 2012).

Dalam menyentuh petani muda diusahakan dengan diberikannya layanan dan paket kredit dan investasi bersamaan dengan pusat layanan teknologi agribisnis. Pendekatan pada tiap jenis usaha pertanian juga berbeda-beda. Sama seperti di Australia, misalnya, pemilik peternakan sapi biasanya memiliki tingkat pendidikan yang berbeda dengan pemilik pertanian hortikultura. Maka pendekatan yang dilakukan. Juga berbeda. Mahasiswa dalam berbagai seminar dan workshop yang terkait pertanian bisa lebih banyak bertemu dengan Peternak. Tapi untuk memberikan sosialisasi dan diseminasi teknologi baru untuk hortikultura, maka staf akademik dan mahasiswa yang akan lebih sering berkunjung pada lahan-lahan pertanian.

Jika pada 1860an lebih banyak digunakan kuda atau kerbau dalam pertanian dan mekanisasi pertanian adalah sebuah impian petani atas kemudahan melakukan kegiatan pertanian. Maka penggunaan traktor mulai menggeser jumlah kuda dan kerbau yang digunakan di pertanian sejak 1980an.

Precision agriculture mulai dikenal sejak tahun 2000an dan mulai mendapat perhatian dalam 2 tahun terakhir dan menjadi perangsang minat untuk bertani bagi golongan muda. PA atau sering disebut dengan satellite ferming adalah pengeleloaan pertanian dengan menggunakan teknologi informasi dan satelit dalam observasi, pengukuran dan analisa lahan dan tanaman dalam optimalisai hasil produksi. Maka bisa bisa jadi pertanian dengan konten IT yang lebih besar suatu saat menjadi kenyataan dan golongan muda memiliki gairah untuk bertani.

Namun, pembangunan pertanian tidak bisa terlepas dari sisi sosial dan kebudayaan. Walking the chain adalah sebuah kegiatan yang inisiasi oleh Professor Kim Bryceson dari Schools of Agriculture and Food Science The University of Queensland dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi petani dari suku Aborigin. Petani diberikan pemahaman lingkungan bisnis dan rantai pasok yang bersumber dari lahan pertaniannya. Kegiatan yang dilakukan merupakan bentuk aplikasi dari konsep Absorptive Capacity (ACAP) dan berhasil menghapus fasilitasi teknologi pada masyarakat tradisional yang dianggap sebagai retardasi ekonomi yang memberi ikan bukan pancing (dependency syndrome). Konsep ini juga mematahkan Teori Dualisme Sosiologis H.J. Boeke untuk tidak membawa ide-ide baru, kelembagaan dan teknologi baru pada masyarakat tradisional.

Teknologi yang diarahkan untuk dimanfaatkan sebaiknya dialihkan dalam bentuk jasa (when technology is commoditized, technology must become a service). Tanpa bauran ini maka potensi teknologi menjadi proyek penelitian berkelanjutan. Hal ini terdapat pada esensi rantai nilai (value chain) yang memandang sebuah produk/komoditi bukan dari proses produksi tapi dari bentuk jejaringnya. Beberapa kasus aplikasi teknologi yang berhasil selalu melibatkan jasa dalam kemasan sosial budaya. Sehingga barang baru itu tidak dianggap sebagai bantuan dari pihak luar tapi menjadi sesuatu kebutuhan baru yang menjadi milik masyarakat. Tentunya dengan analisis transisi inovasi yang cocok dan sesuai tiap jenis produk pertanian, pasar, lingkungan bisnis dan mulai dikembangkannya semacam regulatory sandbox untuk teknologi yang dianggap siap untuk menjadi komoditas.

» Artikel terkait :

» Tanggapan :

  • Komentar Anda :
    Setiap komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Penulis. Khusus untuk komentar dari sivitas LIPI yang ditulis melalui halaman BLOG setelah masuk Intra LIPI langsung ditampilkan tanpa perlu persetujuan Penulis.

    Nama :
      (wajib diisi)
    Surat-e pengirim :
      (wajib diisi)
    Situs pengirim : (kalau ada)

    Isi komentar : (tidak diperkenankan memakai kode HTML)
      (wajib diisi)
    Kata-kunci dinamis :   (wajib diisi)     [ lihat disini ! ]
      atau  

» 1 komentar
» 663 kali diakses
» 0 kali dikirim
» 10 kali dicetak
versi cetak »
kirim ke teman »
berbagi ke facebook »
berbagi ke Twitter »
simpan halaman ini »
terjemahkan halaman ini »

Innovation Technolog
Arsip blog dengan kata-kunci :  

PERHATIAN : Seluruh isi blog ini merupakan representasi dari pandangan dan opini personal pemilik blog sebagai bagian dari kebebasan akademis sivitas LIPI, tetapi BUKAN merupakan representasi kebijakan LIPI secara kelembagaan ! Seluruh isi merupakan tanggung-jawab individu pemilik blog, dan LIPI tidak bertanggung-jawab atas isi maupun aneka akibat baik langsung maupun tidak langsung yang ditimbulkannya.
Berbeda dengan blog pada umumnya, identitas penulis di Blog Sivitas LIPI dijamin kebenarannya.
Artikel yang telah mendapatkan tanggapan tidak bisa direvisi oleh penulis.
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2002-2017 LIPI